Pemerintahan

Bupati Arifin Hadiri Mancing Mania di Watulimo hingga Festival Banyu Sekoro di Panggul Trenggalek

Diterbitkan

-

Bupati Arifin Hadiri Mancing Mania di Watulimo hingga Festival Banyu Sekoro di Panggul Trenggalek
FESTIVAL: Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat menghadiri Festival Banyu Sekoro di Kecamatan Panggul. (memontum.com/mil)

Memontum Trenggalek – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menghadiri dua kegiatan di Kecamatan Watulimo dan Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Dalam perjalanan dari pesisir Timur ke ujung Barat Trenggalek itu, Bupati Nur Arifin juga sekaligus mencoba rute yang rencananya akan tersambung menjadi Jalur Lintas Selatan (JLS).

Di Kecamatan Watulimo, bupati muda ini menandai pelaksanaan dimulainya Turnamen Mancing Mania yang digelar kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Selain sebagai sarana promosi wisata, turnamen yang diikuti puluhan pemancing dari berbagai daerah tersebut, juga ditujukan untuk penggalangan dana pembangunan Masjid.

“Semua ini patut disyukuri. Karena kalau di pesisir yang lain, mungkin tidak ada yang berkahnya sebesar di Teluk Prigi. Karena biasanya, kalau ada kampung nelayan atau aktivitas nelayan, itu biasanya pariwisatanya kurang bagus,” ungkap Mas Ipin-sapaan akrab Bupati Trenggalek, Minggu (20/03/2022) sore.

Meskipun di wilayah ini penduduknya mayoritas berprofesi sebagai nelayan, namun kebersihan akan lautnya masih terjaga. “Tapi, kita ini sudah kampung nelayan. Pesisirnya masih bersih, kemudian pariwisatanya juga sangat cantik dan sangat bagus. Jadi, ini yang perlu kita syukuri dan ini juga pertanda bahwa masyarakat di pesisir, pendapatannya tidak hanya sekedar dari mencari ikan sebagai nelayan. Tetapi juga bisa ikut terlibat dalam sektor pariwisata,” imbuhnya.

Beranjak dari Kecamatan Watulimo, suami Novita Hardiny, ini bergeser ke Panggul untuk menghadiri Festival Banyu Sekoro di Desa Terbis. Festival ini merupakan ritual adat dengan tujuan menjaga sumber mata air yang ada di wilayah tersebut tetap terjaga. Festival Banyu Sekoro juga digelar untuk memperingati hari air sedunia.

Advertisement

Baca juga :

“Terkadang formalitas atau aturan tidak akan bisa begitu kuat mengakar di masyarakat. Berbeda halnya jika dilakukan dengan pendekatan budaya,” kata Mas Ipin.

Hal itu, tambahnya, sebagaimana ritual yang dilakukan pada Festival Banyu Sekoro. Bagaimana menyikapi isu perubahan iklim dengan pendekatan kebudayaan.

“Kalau dahulu dibilang air sumber kehidupan. Air harus kita jaga, itu mungkin tidak semua orang bisa memahami. Tetapi kalau dibilang di sini, tempatnya ada yang menunggu dan bisa marah kalau tidak dijaga. Karena itu terkadang bisa menjaga sumber-sumber air kita punya,” jelasnya.

Padahal, lanjutnya, kemungkinan secara scientific seperti yang dilakukan ini ada prosesi nyadran.  Lalu dengan persembahan hewan ternak yang disembelih lalu dikuburkan, yang namanya makhluk hidup dikubur kemudian terurai akan menambah unsur hara dalam tanah.

“Kalau unsur haranya baik, ya nanti ditanam apapun akan baik. Akar-akarnya kuat sehingga kemampuan menyimpan air juga baik. Sehingga, sebenarnya secara scientific pun yang dilakukan nenek moyang kita dahlu juga beralasan,” papar Bupati Arifin.

Advertisement

Dalam kesempatan itu, bupati juga menjelaskan bahwa saat ini RPJMD Kabupaten Trenggalek, dinilai lebih progresif terhadap perubahan iklim. Sekretariat pro-iklim juga telah dibentuk dan setiap OPD harus memiliki langkah mitigasi dan adaptasi. (mil/sit)

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas