Connect with us

Berita

Hutang BPJS Kesehatan Ke RSUD Trenggalek Capai Rp 6 Miliar

Diterbitkan

||

Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, dr Sunarto.

Memontum Trenggalek – Pencairan tagihan tak kunjung dibayarkan ke pihak RSUD dr Soedomo Trenggalek, hutang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menumpuk hingga Rp 6 miliar. Meski pihak RSUD berulang kali mengajukan penagihan, namun proses pencairan tagihan belum juga dilakukan.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Direktur RSUD dr Soedomo Kabupaten Trenggalek, dr Sunarto mengungkapkan, jumlah tersebut tercatat dari 2 tunggakan.

“Total nilai itu terdiri dari 2, yakni pelayanan rutin BPJS senilai Rp 4 miliar dan pelayanan penanganan Covid-19 senilai Rp 2 miliar. Meski begitu kami juga mengklaim jika saat ini casflow RSUD masih cukup baik, sehingga tidak menjadi kendala dalam pelaksanaan,” ucap dr Sunarto, Jum’at (04/09/2020) sore.

Dikatakan dr Narto sapaan akrabnya, pihak RSUD telah mengajukan klaim pada Maret dan April 2020 namun masih mengambang. Artinya sudah di verifikasi namun belum cair. Sedangkan untuk bulan Mei dan Juni sudah diajukan namun belum diverifikasi.

“Jadi setiap bulan kita tetap mengajukan, namun ada dua bulan yang sudah terverifikasi namun belum cair dan dua bulan belum diverifikasi,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa pihak RSUD telah mengambil langkah sebagai solusi dengan tetap menyampaikan ke Kementerian Kesehatan dalam kegiatan seminar online (Webinar).

“Untuk menanggulangi hal itu, efektivitas dan efisien anggaran terus dilakukan oleh RSUD. Selain itu casflow atau laporan keuangan yang berisi tentang informasi penerimaan dan pengeluaran anggaran RSUD hingga sekarang masih cukup baik, artinya belum sampai ke arah langkah berhutang ke bank,” kata dr Narto.

Bahkan, lanjut Direktur RSUD plat merah ini, kejadian seperti ini bukan hanya di Trenggalek bahkan juga terjadi di beberapa daerah lain.

“Ini yang menjadi beban RSUD, karena ada hutang menumpuk disitu sedangkan hutang satunya belum dibayar dan ada lagi hutang lainnya,” pungkasnya. (mil/syn)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Puluhan Relawan Ikuti Pelatihan First Aid

Diterbitkan

||

Salah satu relawan saat melakukan pelatihan pertolongan pertama (first aid).
Salah satu relawan saat melakukan pelatihan pertolongan pertama (first aid).

Memontum Trenggalek – Puluhan relawan dari Ponorogo, Pacitan dan Trenggalek, mengikuti pelatihan pertolongan pertama (first aid), pada awal pekan kemarin (28/9). Kegiatan yang dikonsentrasikan di Pos Basarnas Trenggalek, sebagai langkah antisipasi terhadap korban bencana.

Dalam pelatihan itu, peserta mendapatkan metode atau tata cara penanganan pertolongan pertama apabila terjadi musibah bencana. Sementara tindakan yang dilakukan, mulai bagaimana cara mencari pertolongan, menolong dan penyelamatan korban.

Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Abdul Haris Achadi, mengatakan Basarnas tak bisa bekerja sendiri dalam upaya pencarian dan pertolongan. Sehingga, harus melibatkan relawan maupun warga sekitar. Caranya, seperti sejak awal diberikan pelatihan.

“Tanpa dilatih dengan baik, kelompok masysarakat ini akan kurang maksimal jika menghadapi masalah-masalah pencarian dan pertolongan. Apalagi, pertolongan yang sifatnya butuh respons cepat,” kata Abdul.

Masih menurut Abdul, pelatihan seperti ini telah menjadi salah satu prioritas nasional di Basarnas. Untuk tahun ini, Basarnas mentargetkan dapat melatih sekitar 5 ribu orang relawan.

“Target awal, itu sebenarnya 10 ribu orang relawan. Namun, karena ada pandemi, akhirnya diturunkan menjadi 5 ribu orang relawan,” tambahnya.
Terkait dengan pelatihan, Abdul menjelaskan, akan di gelar selama lima hari. Selama itu pula, peserta akan mendapatkan pembekalan sikap, diklat, dan peningkatan skil.

“Penanganan pertolongan pertama kepada orang yang tertimpa musibah sangat penting. Karena, semua itu menyangkut nyawa orang. Jadi, peserta juga diberikan mengenai skil khusus itu,” ujarnya. (mil/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Gapoktan Kecamatan Munjungan Luruk Kantor DPRD, Pastikan Pupuk Subsidi Segera Direalisasikan

Diterbitkan

||

HEARING: Suasana hearing kelompok tani di Kecamatan Munjungan dengan Komisi 2 DPRD Trenggalek.
HEARING: Suasana hearing kelompok tani di Kecamatan Munjungan dengan Komisi 2 DPRD Trenggalek.

Memontum Trenggalek –  Sejumlah kelompok tani dari Kecamatan Munjungan datangi kantor DPRD guna menyampaikan aspirasinya terkait kelangkaan pupuk bersubsidi. Mereka diterima Komisi 2 DPRD Trenggalek akhirnya menuntut agar pupuk bersubsidi segera direalisasikan.

Salah satu perwakilan kelompok tani dari Munjungan, Rusmani mengatakan bahwa sesuai regulasi pemegang Kartu Tani (Kartani) merasa dibenturkan dengan pembagian pupuk bersubsidi yang tidak merata.

“Pada intinya kami sebagai petani sudah menanam padi yang umurnya sudah lebih dari 30 hari. Seperti regulasi atau aturan pemerintah untuk memakai kartu kartani, dan bahkan pemerintah sendiri belum siap tentang hal itu. Sehingga kami dibenturkan dengan hal ini, bahkan sekarang pupuk bersubsidi sangat langka di daerah Munjungan,” ucap Rusmani, Selasa (22/09/2020) siang.

Ia mengeluhkan, pupuk bersubsidi sudah tidak ada sama sekali di Kecamatan Munjungan. Sehingga mereka kebingungan dan terbentur dengan tanaman yang sudah ditanami.

“Kira-kira tanaman kita gagal panen, mungkin ada beberapa tanaman yang kelihatan subur, itupun kita berjuangnya mati matian karena kita membeli pupuk non subsidi. Jika dihitung mati atau hidup sudah tidak seimbang lagi antara penghasilan dan pengeluaran karena pupuk non subsidi kan harganya mahal,” imbuhnya.

Para kelompok tani ini berharap agar Pemerintah Daerah mau mendengar apa yang menjadi aspirasinya.

“Harapannya, pupuk subsidi ini agar segera digelontorkan disana. Kasian petani, sudah menunggu sekian lama dan kita sudah sering melakukan koordinasi dengan dinas terkait tapi tidak pernah ada tindak lanjut. Makanya kami datang ke dewan ini sebagai jalan terakhir adanya solusi akan permasalahan ini,” kata Rusmani.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi II DPRD Trenggalek Pranoto mengungkapkan, masyarakat yang menyebut dirinya dari perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Munjungan menyampaikan aspirasinya ke kantor DPRD Trenggalek.

“Aspirasi yang pertama terkait penyaluran pupuk bersubsidi yang memang pada hari ini ada sebagian yang belum terealisasi,” ungkap Pranoto.

Ia menyebut, ada beberapa faktor yang disampaikan perwakilan gapoktan ke Komisi 2. Beberapa hal itu yang pertama terkait dari kuota pupuk yang harus ditingkatkan dan tepat waktu, karena tidak mungkin ketika waktu tanam dan tidak ada pupuk.

“Tadi sudah banyak solusi, karena waktunya darurat, maka pemerintah daerah sudah mengawali Komisi 2 untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Pada hari Jum’at kemarin, Bupati juga sudah menindaklanjuti hal ini, akan tetapi ada beberapa yang belum terealisasi,” katanya.

Realisasi ini tentu harus didasari dengan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Jika e-RDKK itu sudah diajukan tapi belum ada realisasi, tentu ini masih terbentur beberapa faktor.

“Akan tetapi ini sudah mengerucut pada keputusan-keputusan yang akan segera terealisasi dalam waktu dekat yang penting persyaratan secara administrasi dilengkapi,” tegas Politisi Partai PDIP ini.

Pranoto menegaskan pupuk bersubsidi tersebut bukan tidak direalisasikan melainkan belum terealisasi. Seperti yang disampaikan, yang sudah mengajukan e RDKK dipastikan akan mendapatkan pupuk sesuai pengajuannya. (mil/syn)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Pastikan Siap Digunakan, Kepala SAR Surabaya Cek Alut di Trenggalek

Diterbitkan

||

PENGECEKAN : Pengecekan sarana dan prasarana kesiapsiagaan bencana di Pos SAR Kabupaten Trenggalek.

Memontum Trenggalek – Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Surabaya, Hari Adi Purnomo melakukan pengecekan sarana dan prasarana kesiapsiagaan bencana di Pos SAR Kabupaten Trenggalek. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi bencana alam yang ada di lingkup Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Trenggalek.

Usai melakukan pengecekan sarana dan prasarana di Pos SAR Trenggalek, Kepala Kantor SAR Nasional Surabaya, Hari Adi Purnomo mengatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana, pihaknya secara aktif turun kelapangan untuk melakukan pengecekan sarana dan prasarana yang ada di Pos SAR Daerah.

“Hari ini kami dari kantor pusat Surabaya ingin mengecek sarana dan prasarana guna meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan adanya potensi bencana utamanya di Pos SAR daerah. Mengingat Pos SAR ini ujung tombak pelayanan masyarakat terhadap kebutuhan SAR,” ungkap Hari saat dikonfirmasi, Selasa (25/08/2020) sore.

Seperti yang terlihat di Pos SAR Kabupaten Trenggalek, seluruh Alat Utama (Alut) dalam kondisi ready (Red : siap), meski belum dapat dipastikan adanya tanda-tanda kedaruratan.

“Hanya saat ini, yang perlu diwaspadai dan diantisipasi adanya gelombang tinggi diperairan baik pemancing maupun para nelayan. Jika dilihat, untuk ketinggian gelombang air laut diperairan baik di Pantai Utara maupun Pantai Selatan sekitar 2,5 meter,” imbuhnya.

Namun, lanjut Hari, disisi selatan Pulau Jawa ini gelombang air laut dirasa cukup tinggi dan mengkhawatirkan. “Kadang pula gelombang mencapai di ketinggian 4 meter, dan kendala yang dialami tim sejauh ini, utamanya disisi selatan Pulau Jawa adalah tidak tersedianya Alut yang besar seperti KRI atau kapal kapasitas 40 meter,” kata Hari.

Meski demikian, dengan tetap melakukan koordinasi bersama TNI/Polri maupun masyarakat, kegiatan pertolongan bantuan bisa terlaksana dengan baik. Disinggung terkait kesiapan personel, Hari mengungkapkan jika kesiapan personel dituntut untuk siap 24jam baik fisik maupun mental.

“Kapanpun dibutuhkan harus selalu siap, dan tidak ada kata siang maupun malam. Dalam kondisi apapun ketika ada panggilan kedaruratan, personil harus siap. Bahkan dikantor sendiri sudah ada personil yang berjaga-jaga 24 jam,” tegasnya.

Melihat potensi bencana diperairan yang ada di Pulau Jawa, Hari menyebut jika yang paling berpotensi ada di Kepulauan Sumenep. Mengingat Kabupaten Sumenep yang berada di ujung timur Pulau Madura merupakan wilayah yang terdiri wilayah daratan dengan pulau yang tersebar berjumlah 126 pulau. Serta aktifitas masyarakat dilakukan dengan menempuh perjalanan laut.

“Sehingga potensi untuk terjadi Laka laut cukup besar. Akhir-akhir ini juga beberapa kali terjadi Laka laut yang korbannya bisa diselamatkan,” ungkap Hari. (mil/syn)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler