Connect with us

Pendidikan

Sesuaikan Aturan, Begini Penggunaan BOP PAUD di Trenggalek

Diterbitkan

||

Kabid Pembinaan PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Trenggalek, Rulik Tri Anggraini saat ditemui di ruang kerjanya.

Memontum Trenggalek – Penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) harus sesuai dengan aturan yang ada. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Trenggalek Rulik Tri Anggraini.

Disebutkan, untuk membiayai kebutuhan program pencegahan penularan Covid-19 di tingkat PAUD dan Pendidikan Kesetaraan di Kabupaten Trenggalek sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 13 Tahun 2020.

“Dalam penggunaan BOP PAUD dan Pendidikan Kesetaraan tahun anggaran 2020 sudah disesuaikan sesuai dengan Permendikbud Nomor 13 Tahun 2020 tentang Juknis DAK Nonfisik BOP PAUD dan Pendidikan Kesetaraan TA 2020 diubah oleh Permendikbud 20 tahun 2020 tentang Perubahan Atas Permendikbud 13 tahun 2020 tentang Juknis DAK Nonfisik BOP PAUD dan Pendidikan Kesetaraan TA 2020,” jelas Rulik Tri Anggraini, Senin (31/08/2020) pagi.

Mengacu aturan tersebut, Diknas Kabupaten Trenggalek juga akan menyesuaikan dengan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) masing-masing sekolah.

“Kami akan menyesuaikan sesuai dengan RKAS masing-masing sekolah. Jika di awal sebelum pandemi kita memakai aturan Permendikbud Nomor 13, namun setelah adanya pandemi proses belajar dirubah. Seperti apa, yaitu mengunakan daring dan tidak diperbolehkan pembelajaran itu dilakukan secara tatap muka,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Rulik menjelaskan petunjuk teknis BOS dan Permendikbud Nomor 20 tahun 2020 tentang Perubahan Petunjuk Teknis BOP PAUD dan Kesetaraan di masa kedaruratan Covid-19, adalah dana yang dapat digunakan untuk membeli paket data, dan atau layanan pendidikan dengan membayar bagi pendidik dan peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

“Karena saat ini sistem pembelajaran dilakukan secara daring, maka dana BOP PAUD bisa digunakan untuk membeli paket data, sabun cuci tangan, hand sanitizer, masker dan kebutuhan dalam rangka menunjang protokol kesehatan. Bahkan dana BOP bisa digunakan untuk membiayai tenaga pengajar,” jelas Rulik.

Disinggung terkait akan dimulainya kegiatan belajar mengajar tatap muka di 623 lembaga swasta dan negeri di Trenggalek di tingkatan PAUD, pihaknya menuturkan jika masih ada beberapa komponen yang perlu disiapkan untuk pembelajaran tatap muka.

“Jika kemarin di Trenggalek sempat masuk zona kuning sehingga bisa dilakukan ujicoba tatap muka di tingkatan SMP terlebih dahulu. Nantinya juga akan dilakukan evaluasi setelah 2 bulan. Jika hasil evaluasi bagus, maka bisa dilanjutkan ditingkat Sekolah Dasar, lalu tingkat PAUD akan menyusul,” tuturnya.

Namun, karena saat ini posisi Kabupaten Trenggalek masuk zona orange maka proses pembelajaran untuk tingkatan PAUD belum bisa dilakukan.

“Kemarin untuk tingkat SMP ujicoba dilakukan di awal bulan Agustus, setidaknya untuk PAUD baru bisa dilakukan sistem pembelajaran tatap muka secepatnya bulan Desember mendatang. Tapi, karena Trenggalek masuk zona orange untuk saat ini, maka belum juga dipastikan kapan akan dilakukan pembelajaran tatap muka. Tergantung mekanisme yang baru nanti,” tutup Rulik. (mil/syn)

 

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Siapkan 2000 Dosis Vaksin, Ponpes dan MA di Trenggalek jadi Sasaran BIN

Diterbitkan

||

VAKSINASI : Salah satu santri di Trenggalek saat menerima suntikan vaksin dari BIN

Memontum Trenggalek – Badan Intelijen Negara (BIN) menyiapkan sebanyak 2.000 dosis vaksin Covid-19 dengan sasaran Pondok Pesantren (Ponpes) dan Madrasah di Kabupaten Trenggalek.

Sasaran yang pertama diberikan kepada siswa-siswi yang ada di MTs Negeri Trenggalek, sebanyak 1.444 dosis vaksin. Sementara itu, 600 dosis sisanya diperuntukkan untuk para santri di Pondok Pesantren Qomarul Hidayah, Kecamatan Tugu.

Baca Juga:

    Didampingi jajaran Forkopimda Trenggalek, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Jawa Timur (Kabinda Jatim), Marsma TNI Rudy Iskandar, menuturkan jika pelaksanaan vaksinasi akan diberikan kepada anak usia 12-19 tahun.

    “Pagi ini, kita melakukan vaksinasi dengan sasaran anak usia 12 hingga 19 tahun. Ini ditujukan ketika ada kebijakan sekolah tatap muka, para anak ini lebih aman dari penyebaran Covid-19 karena sudah melakukan vaksin,” ungkap Rudy saat dikonfirmasi, Selasa (03/08).

    Dikatakannya, pelaksanaan vaksinasi ada 2 lokasi. Yang pertama di sekolah tingkat pertama MTsN Trenggalek dan yang kedua di Ponpes Qommarul Hidayah, Kecamatan Tugu.

    “Jadi sasaran kita sementara ini madrasah dan pondok pesantren. Karena ke depan kalau sudah waktunya ada kebijakan untuk melaksanakan sekolah offline, mereka sudah tervaksin semua,” imbuhnya.

    Sementara itu, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menyambut baik upaya yang dilakukan BIN untuk mendorong terwujudnya Herd Community di Trenggalek.

    “Saya mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek, sangat berterima kasih. Dalam hal ini Kabinda beserta jajaran dan BIN pusat yang all out. Tidak hanya jumlah vaksinasi yang dikirim, tapi juga sasaran para pelajar, kita ingin secepat mungkin para pelajar tervaksin,” terang Bupati Arifin.

    Ia menambahkan, apabila nanti memasuki PPKM level 3, 2 dan bahkan level 1 atau sudah dimungkinkan pembelajaran tatap muka. Maka semua tenaga pengajar dan siswa ini benar-benar sudah siap.

    “Kalau kemarin kita sudah pastikan semua tenaga pengajar melakukan vaksinasi, kali ini muridnya. Jadi nanti jika suatu saat PTM bisa dilakukan, mereka sudah siap untuk menjalaninya,” tegasnya.

    Bupati muda ini juga berharap, jika vaksin yang didapat dari BIN ini bisa membahagiakan bagi warga Trenggalek.

    “Karena yang kita tau, saat ini Trenggalek masih kekurangan stok vaksin untuk tahap kedua. Mudah-mudahan, vaksin yang diberikan BIN ini bisa bermanfaat dan membantu kita menyelesaikan proses vaksinasi menyeluruh di Kabupaten Trenggalek,” pungkas suami Novita Hardiny ini.

    Seperti yang terlihat dilokasi, meskipun tahapan vaksinasi dilakukan secara masal. Namun jalannya vaksinasi di MTsN Trenggalek ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

    Vaksinasi dilaksanakan di gedung pertemuan sekolah, sedangkan siswa yang akan divaksin dipanggil 25 siswa per-gelombang. Sisanya menunggu di ruang kelas menanti giliran dipanggil. Infrastruktur yang ada, cukup memadai dan mendukung pelaksanaan vaksinasi secara protokol kesehatan. Selain itu vaksinasi masal ini juga didukung dengan upaya testing dan tracing. Sehingga bila ada siswa yang terpapar dapat segera diketahui. Bahkan BIN juga menyiapkan mobil laboratorium dalam kegiatan ini, sehingga test lanjutan bisa segera dilakukan bila ada siswa yang positif Swab Antigen. (mil/ed2)

    Lanjutkan Membaca

    Pendidikan

    Di Tengah Pandemi Covid-19, Bunda PAUD Novita Ajak Orang Tua di Trenggalek Jadi Guru dari Rumah

    Diterbitkan

    ||

    Bunda PAUD Novita Hardini saat meninjau simulasi pembelajaran aman Covid-19 di Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo.

    Memontum Trenggalek – Meski masih dalam situasi pandemi Covid-19, kebutuhan akan pendidikan tentu sangatlah penting. Demi memperjuangkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi anak usia dini di daerahnya, Bunda PAUD Trenggalek, Novita Hardini Mochamad, tidak lupa ajak para orang tua bisa menjadi guru bagi anak di rumah.

    Pemenuhan hak pendidikan anak, tentunya yang ingin didorong oleh penggagas sekolah perempuan tersebut. Karena anak merupakan generasi penting penerus bangsa nantinya.

    Baca juga:

      “Harapan saya kepada seluruh orang tua, tetap menjadikan anak itu menjadi prioritas. Semua dampak yang terjadi akibat Pandemi Covid 19, terutama sektor yang terpukul adalah ekonomi, tentunya membuat para orang tua mau tidak mau harus membagi konsentrasinya kepada banyak elemen,” ucap Novita usai meninjau simulasi pembelajaran aman Covid-19 di Desa Karanggandu dan Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Selasa (15/06/2021) pagi.

      Dikatakan istri Bupati Trenggalek ini, ditengah pandemi Covid-19, ada yang fokus bagaimana ini bisa makan, bagaimana keberlangsungan keluarga ini bisa terus aman dari sektor kesehatan.

      “Namun jangan sampai terlupa keberlangsungan anak anak di rumah,” imbuhnya.

      Meskipun mereka tidak bisa komplain atau mereka tidak bisa meminta sesuatu, para orang tua ini harus memikirkan bahwa anak anak itu prioritas utama.

      Mereka generasi penerus bangsa, sehingga pendidikan merupakan suatu hal yang wajib diberikan untuk setiap anak di rumah.

      “Meskipun kita, setiap sekolah belum siap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat atau belum siap melakukan pembelajaran tatap muka, namun para orang tua itu sudah siap. Bisa menimba ilmu dari internet, Google, Instagram, You Tube, bagaimana sih kita menjadi guru di rumah bagi anak-anak. Itu merupakan sebuah langkah yang baik,” terang Novita.

      Ibu 3 anak ini berharap semua orang tua bisa selalu memberikan pengajaran bagi anak-anak, sebagai wujud pemenuhan kebutuhan pendidikan di masa pandemi.

      “Saya berharap setiap orang tua di rumah punya ketrampilan itu di rumah. Kita juga harus mampu menjadi guru bagi anak-anak di rumah,” pungkasnya. (mil/syn)

      Lanjutkan Membaca

      Pendidikan

      SMAN 1 Jadi yang Pertama Menerapkan Program SKS di Trenggalek, Begini Harapan Bupati Arifin

      Diterbitkan

      ||

      Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat menghadiri Dies Natalis di SMAN 1 Trenggalek.

      Memontum Trenggalek – Terapkan program Sistem Kredit Semester (SKS), SMA Negeri 1 Trenggalek menjadi yang pertama yang menerapkan sistem itu di Kota Keripik Tempe. Hal ini juga diharapkan bisa memberikan dampak yang positif terhadap sistem belajar mengajar di sekolah.

      Diketahui, sebagai SMA tertua di Trenggalek dan salah satu sekolah terbaik, SMA Negeri 1 Trenggalek telah banyak melahirkan lulusan-lulusan yang kini sukses dalam karir. Dari banyaknya alumni yang terbilang sukses tersebut tentu diharapkan dapat bersinergi dalam membangun Kabupaten Trenggalek.

      Baca juga:

        Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin berharap lulusan SMA Negeri 1 bisa bersinergi dari sisi Sumber Daya Manusia.

        “Saya harap lulusan terbaik dari SMA Negeri 1 Trenggalek ini nantinya bisa bersinergi membangun Trenggalek dari segi SDMnya. Dengan begitu, jargon kita Meroket bisa bisa tercapai,” ungkap Bupati Arifin saat menghadiri Dies Natalis ke-57 SMA Negeri 1 Trenggalek yang digelar secara hybrid atau terbatas, Kamis (03/06/2021) pagi.

        Mas Ipin sapaan akrabnya bercerita, jika alumni SMA Negeri 1 ini ada yang menjadi ahli kebencanaan. Dan pihaknya ingin bekerjasama terkait hal itu.

        “Kemudian juga ada yang melanjutkan pendidikan di beberapa universitas, seperti di Brawijaya, ada yang di Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi,” imbuhnya.

        Termasuk, lanjut Bupati, ada yang berkuliah di luar negeri yakni di Amerika. Dan pihaknya berharap nanti akan banyak anak-anak Trenggalek yang bisa sekolah di luar negeri melalui jalur beasiswa maupun fasilitas dari beberapa lembaga yang bisa diakses.

        Selain itu, di sisi ekologi Bupati Nur Arifin kembali mengkampanyekan gerakan sedekah bambu. Untuk itu dirinya meminta dukungan segenap pihak untuk menggerakkan seluruh siswa berdonasi bambu setiap tahun ajaran baru.

        “Dengan menanam bambu menjadi salah satu langkah mitigasi bencana. Hal itu karena bambu sangat baik dalam menyimpan cadangan air dalam tanah serta dapat menahan longsoran tanah. Selain fungsi ekologi, bambu juga memiliki fungsi ekonomi, baik untuk kerajinan, bahan pangan, sandang dan sebagainya,” terangnya.

        Di waktu yang bersamaan, Bupati muda ini juga berkesempatan mendeklarasikan SMA Negeri 1 Trenggalek sebagai penyelenggara sekolah dengan sistem kredit semester (SKS). Dengan sistem kredit semester, Bupati berharap akan banyak siswa-siswa yang mampu mencapai pendidikan tinggi di usia muda.

        “Sehingga nanti bisa menduduki pucuk pimpinan, baik di perusahaan atau bahkan di pemerintahan itu nanti diisi anak-anak muda, dan harapannya bisa lebih inovatif,” tutur suami Novita Hardiny ini.

        Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Trenggalek, Endang Sri Pratiwi menuturkan sistem SKS ini dimaksudkan jika ada siswa yang memiliki kemampuan yang lebih dalam menyerap pelajaran, maka siswa tersebut bisa menyelesaikan 1 semester hanya dalam waktu 4 bulan saja.

        “Jika dalam 1 semester itu diselesaikan sekitar 6 bulan, namun jika siswa tersebut mampu menyelesaikan pelajaran kurang dari jangka waktu itu. Dimungkinkan pembelajaran yang akan ditempuh selama di SMA, bisa diselesaikan hanya dalam waktu 2 tahun saja,” ucap Endang.

        Ia menjelaskan dalam sistem SKS ini, misalkan siswa telah menyelesaikan bab 1 dalam 1 pelajaran, maka siswa tersebut bisa langsung melanjutkan ke bab 2 dan seterusnya.

        “Ini tidak harus berbarengan dengan teman-temannya. Dan dalam sistem ini tidak ada model pembelajaran kenaikan kelas. Tolok ukur kenaikan tingkat dihitung berdasarkan jumlah pembelajaran yang ditempuh,” pungkasnya. (mil/syn)

        Lanjutkan Membaca

        Terpopuler