Connect with us

Pemerintahan

Terkait Limbah Pemindangan Ikan, DPRD Trenggalek Hearing Dengan ARPT

Diterbitkan

||

Anggota DPRD Trenggalek hearing bersama Aliansi Rakyat Peduli Trenggalek. (mil)
Anggota DPRD Trenggalek hearing bersama Aliansi Rakyat Peduli Trenggalek. (mil)

Memontum Trenggalek – Sejumlah wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD Kabupaten Trenggalek hearing bersama Aliansi Rakyat Peduli Trenggalek (ARPT). Kedatangan ARPT ke kantor DPRD Trenggalek ini tak lain untuk menyampaikan aspirasi terkait limbah pemindangan ikan yang ada di 4 Desa di Kecamatan Watulimo.

Berdasarkan hasil yang disampaikan Pimpinan Rapat, telah disimpulkan bahwa ada 2 hal yang disampaikan ARPT dalam kesempatan tersebut.

“Hasil hearing tadi sudah disimpulkan. Yang pertama terkait limbah pemindangan ikan yang perlu diperhatikan dan diselesaikan. Dan yang kedua terkait tempat relokasi pelaku usaha pemindangan ke Sentra Pengolahan Bengkorok, ” ucap Sukarudin saat dikonfirmasi, Kamis (09/01/2020) siang.

Selanjutnya, tahapan yang dilakukan pada 3 Januari 2020 kemarin adalah mengundang seluruh OPD untuk mengambil langkah – langkah yang berkaitan dengan penyelesaian limbah ini.

Pihaknya meminta agar OPD terkait memverifikasi jumlah pelaku usaha pemindangan ikan yang ada di Kecamatan Watulimo. Nantinya, pelaku usaha pemindangan ikan harus bersedia ditempatkan di tempat relokasi atau harus membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara mandiri.

“Dua pilihan ini hanyalah bersedia di pindah ke relokasi yang ada di Sentra Pengolahan Bengkorok atau melakukan pengolahan limbah secara mandiri, ” tegasnya.

Masih terang Sukarudin, jika kedua opsi tersebut tidak dipilih, maka usaha pemindangan harus bersedia ditutup.

Dari total 34 tempat pemindangan yang ada di 4 desa DI Kecamatan Watulimo, 21 diantaranya bersedia ditempatkan di tempat relokasi. Sedangkan 14 lainnya bersedia melakukan pengolahan limbah secara mandiri.

“Bagi yang bersedia ditempatkan di relokasi yang ada di Bengkorok, jangka pendek yang dilakukan adalah menempati tempat pemindangan sementara, ” kata Sukarudin.

Dengan biaya mandiri kurang lebih Rp 25 juta per orang, proses pembangunan Sentra Pengolahan Bengkorok dilakukan kurang lebih selama 3 bulan.

“Nanti sore juga akan dilakukan pengundian blok agar tidak terjadi kecemburuan bagi sesama pelaku usaha pemindangan, ” pungkasnya.

Sedangkan bagi yang mandiri, lanjut Sukarudin, kurang lebih membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk menyelesaikan pengelolaan limbah yang dihasilkan dengan memasang IPAL secara mandiri.

“Untuk itu, mulai hari ini hingga 1,5 bulan kedepan akan dilihat hasilnya seperti apa, ” tandasnya.

Disinggung terkait target pembersihan limbah yang ada di sungai – sungai, Sukarudin mengatakan jika masalah pengolahan limbah sudah terselesaikan maka selanjutnya akan merehabilitasi sungai yang terdampak.

Langkah yang akan dilakukan untuk merehabilitasi sungai terdampak, nanti masih harus berkoordinasi dengan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Trenggalek.

“Dan ini semata – mata akan lebih efektif jika setiap aliran sungai yang terdampak adalah Pokdarwis setempat. Jadi ini terkait pembersihan limbah harus dilakukan bersama dengan masyarakat, dan tidak hanya dari Pemerintah Daerah saja, ” tutur Sukarudin. (mil/oso)

 

Pemerintahan

Kasus Pembunuhan ODGJ, Begini Tanggapan Kadinsos Trenggalek

Diterbitkan

||

Kasus Pembunuhan ODGJ, Begini Tanggapan Kadinsos Trenggalek

Memontum Trenggalek – Tak tinggal diam melihat adanya kasus penganiyaan antar Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Gunung Kebo hingga mengakibatkan korban meninggal dunia, Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Trenggalek angkat bicara.

“Saya tadi pagi mendapatkan informasi dari Kepala Seksi yang menangani masalah orang terlantar, salah satunya ODGJ di Pondok Pesantren Gunung Kebo terdapat pasien yang berkelahi hingga mengakibatkan 1 orang meninggal,” ucap Kadinsos Trenggalek, Dr Ratna Sulistyowati saat dikonfirmasi, Sabtu (29/02/2020) siang.

Menurut keterangan yang didapat, korban atas nama Samsuri ini diketahui sudah berulang kali keluar masuk pondok pesantren. Diketahui, korban tinggal di pondok sekitar 3 minggu terakhir.

Jika dilihat dari tingkah laku korban, kondisinya bagus dan pengawasan saat minum obat juga rutin dilakukan. Hanya saja kebiasaan korban ini tidurnya tidak di dalam, melainkan di luar pondok seperti di masjid.

“Kenapa begitu, karena korban ini merasa bahwa dirinya sudah sehat. Dan tidak perlu berada di kamar – kamar yang disediakan dalam pondok,” imbuhnya.

Kadinsos Trenggalek juga mengungkapkan latar belakang pelaku atas nama Matal. Ia diketahui sudah lama menjadi penghuni di Pondok Pesantren Gunung Kebo, kurang lebih 3 tahun.

“Selama ini, dia juga dikenal kondusif. Bahkan yang mengingatkan ODGJ lain untuk mandi, beribadah dan masak pun juga pelaku,” kata Ratna.

Pihaknya juga masih mendalami terkait peristiwa naas ini terjadi. Hanya saja informasi yang diterima pagi sebelumnya, pelaku dijenguk 2 kerabatnya. Dan tanpa tahu lebih jelasnya, kedua kerabatnya ini bertengkar di hadapan pelaku.

“Apakah hal ini yang menjadi pemicu, ya ini yang harus didalami,” tegasnya.

Lebih lanjut Ratna menjelaskan, untuk korban, sebelumnya juga sempat mengalami naik turun tingkat emosionalnya. Dan sempat dirawat di Puskesmas Karanganyar hingga selanjutnya dibawa ke Pondok Pesantren Gunung Kebo.

Dalam hal ini, pihaknya juga menegaskan bahwa penanganan ODGJ memang tidak bisa dilakukan sepihak saja. Perlu adanya penanganan yang lebih intens lagi serta dukungan dari berbagai pihak.

“Tugas kami selanjutnya untuk lebih menekankan keamanan di Pondok itu sendiri. Dan saya yakin pihak pondok pun juga sudah melakukan keamanan yang maksimal. Makanya untuk tindak lanjut dari kasus ini akan kita serahkan ke pihak kepolisian,” jelas Ratna.

Untuk proses pengawasan terhadap ODGJ yang ada di Pondok Pesantren Gunung Kebo, Dinas Sosial P3A Kabupaten Trenggalek juga akan lebih ditingkatkan ke depannya. (mil/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Pemerintahan

Festival Gagasan 2020, Umumkan 5 Terbaik Untuk Diimplementasikan Di Trenggalek

Diterbitkan

||

Festival Gagasan 2020, Umumkan 5 Terbaik Untuk Diimplementasikan Di Trenggalek

Memontum Trenggalek – Final Festival Gagasan tahun 2020, 5 Gagasan terbaik yang terpilih nantinya akan diimplementasikan di program Pemerintah tahun 2021 mendatang.

Bertempat di pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek, Festival Gagasan ini merupakan kontribusi dari komunitas Bagimu Trenggalek yang ingin memberikan kontribusi terhadap Kabupaten Trenggalek.

Bupati Arifin saat menghadiri Festival Gagasan di pendopo Trenggalek. (ist)

Bupati Arifin saat menghadiri Festival Gagasan di pendopo Trenggalek. (ist)

Tahun 2019 kemarin, ada sebanyak 99 gagasan masuk dalam festival ini dan dipilih 5 gagasan terbaik.

Menurut Ketua Panitia Festival Gagasan Trenggalek Soeripto, tahun 2020 ini terdapat 116 gagasan yang masuk.

“Dalam grand final kemarin sudah ditentukan oleh panitia 10 gagasan terbaik. Diantaranya, SDN 2 Sengon, Mantri Kopi, Dista Nur Prana, Madehan Jaza, Kornea Mahendra Kusuma, Ira Permatasari, Henrigo Radika Utwijaya, Sahabat TL, Sandra Arega Ferdiansyah dan Mahasiswa Kreatif,” ungkap Suripto, Kamis (27/02/2020) siang.

Dari 10 gagasan terbaik ini, kata Ripto sapaan akrabnya, disaring kembali menjadi 5 terbaik yang diumumkan dalam puncak Grand Final hari ini.

“5 terbaik tersebut adalah Dista Nurdiana dan Ilhamdaniah Saleh dengan gagasan Mendulang Emas Hijau di Bambu Edu-park Trenggalek, SDN 2 Sengon dengan gagasan Mesra Paguyubanku, Kornea Mahendra Kusuma dengan gagasan Peningkatan Kesejahteraan Sosial Berbasis Militansi Warga dengan Pembentukan Trenggalek Tempo Doloe, dan Sahabat Trenggalek dengan gagasan Omah Telo, Ayo Nandur Telo, serta Mantri Kopi Trenggalek dengan gagasannya Mengembalikan Kejayaan Kopi Trenggalek, Terintregasi dan Berkesinambungan,” imbuhnya.

Tutut hadir dalam Festival Gagasan 2020 ini, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin memilih menunda keberangkatannya untuk dinas luar kota.

“Festival gagasan penentu kemajuan Trenggalek ke depan. Mengutip dari pernyataan Menteri Perindustrian yang menyebutkan bahwa kenapa Virus Corona tidak masuk ke Indonesia, karena perijinan masuk pun juga masih berbelit di negeri ini,” ucap Arifin.

Suami Novita Hardini ini menambahkan bahwa festival gagasan juga menjadi salah satu ikhtiar untuk mewujudkan Trenggalek yang MEROKET yang artinya Maju Ekonomi Rakyatnya, Orang/ Organisasinya Kreatif dan Ekosistemnya Terjaga.

“Memang MEROKET ini belum ketahapan hasil, masih dalam tahapan ikhtiar kita untuk mewujudkan perekonomian masyarakat yang maju, orang kreatif dan ekosistem.yang terjaga,” tegasnya.

Ia mengaku senang dan mengapresiasi gagasan dari talent muda di Trenggalek untuk mau bersedekah gagasan, bahkan gagasan-gagasan mereka mampu bersaing dengan yang lain.

Bupati juga berpesan, agar gagasan terbaik benar benar dikawal menjadi sebuah program pemerintah nantinya.

Festival Gagasan Trenggalek tahun 2020 ini berlangsung cukup menarik, selain telah berhasil mengajak peran masyarakat untuk berbagi gagasan untuk Trenggalek yang terbaik.

Festival ini menunjukkan bawasannya Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah semakin membuka diri dan mengakomodir partisipatif masyarakat dalam perencanaan pembangunan.

Dihadirkan beberapa panelis yang berkompeten, mulai dari akademisi, budayawan, aktifis maupun Kades Pujon Kidul yang telah berhasil mengantarkan desanya menjadi desa yang berkualitas. (mil/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Pemerintahan

Ketua TP PKK Jatim Kunker Ke Kabupaten Trenggalek

Diterbitkan

||

Ketua TP PKK Jatim Kunker Ke Kabupaten Trenggalek

Memontum Trenggalek – Kabupaten Trenggalek kembali mendapatkan kunjungan dari Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin. Dalam kunjungannya tersebut, Arumi Bachsin melakukan monitoring dan evaluasi penanganan masalah stunting serta tingkat kematian ibu dan bayi.

Bertempat di pendopo Agung Manggala Praja Nugraha, kunjungan tersebut disambut hangat oleh Ketua TP PKK Kabupaten Trenggalek Novita Hardini.

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Trenggalek. (mil)

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Trenggalek. (mil)

Ia menyampaikan bahwa angka stunting di Trenggalek berhasil ditekan. Meskipun tidak terjadi peningkatan, namun angka stunting di Trenggalek mengalami penurunan hingga 25 persen.

“Memang stunting tidak bisa untuk ditiadakan, namun kita terus berusaha untuk menekan dan kerja keras itu menuai hasil, tahun 2019 kemarin, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB berhasil meraih penghargaan Juara 1 penanganan stunting terbaik,” ucap Novita saat dikonfirmasi, Senin (24/02/2020) siang.

Dikatakan Novita, berbagai program terpadu dengan melibatkan semua unsur baik Pemerintahan maupun swasta dan kelompok masarakat digalakkan untuk menangani masalah stunting.

Salah satunya melalui program Sepeda Keren dan Rumah Perempuan, di mana perempuan didorong untuk lebih berdaya sehingga terjadi peningkatan kualitas keluarga. Dengan begitu angka stunting dapat ditekan dengan sendirinya.

“Penyebab stunting sendiri ada banyak faktor, seperti yang disampaikan oleh ibu Ketua PKK Jatim tadi, dan bisa berbeda di tiap daerah, bisa saja karena sanitasinya yang buruk, mungkin data yang disampaikan salah, pernikahan dini juga bisa,” imbuhnya.

Ibu 3 anak ini mengungkapkan dengan adanya Program Sepeda Keren dan Rumah Perempuan diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi semua wanita khususnya yang ada di Kabupaten Trenggalek.

“Hal-hal seperti ini yang mendorong lahirnya program Sepeda Keren dan Rumah Perempuan di Trenggalek, saya memperjuangkan ini karena banyak pendidikan di masyarakat yang belum dikuasai tentang apa itu pernikahan, apa itu pola asuh keluarga dan beberapa yang lainya,” kata Novita.

Semetara itu, Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin, mengatakan ada perbaikan penanganan stunting di Trenggalek. Dalam kunjungan kerjanya tersebut juga melibatkan seluruh pengurus TP PKK Kabupaten/Kota se-Bakorwil Madiun dengan harapan saling bertukar pengalaman terkait dengan penanganan stunting.

“Setelah kami melihat ke bawah, dari tahun-ke tahun sudah ada perbaikan, dan hasil peninjauan ini nantinya kita harapkan bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama karena pendekatan di daerah masing-masing berbeda-beda,” ungkap Arumi.

Istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak ini menegaskan jika stunting bukan hanya disebabkan oleh gizinya yang kurang, tapi pola asuh dan sanitasinya baik.

“Stunting bukan melulu soal gizi yang kurang melainkan, ada juga daerah-daerah yang gizinya bagus namun sanitasinya maupun pola asuhnya yang buruk, kita ingin melakukan pendekatan, setelah monitoring ini nanti kita akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait, sebagai bahan masukan sehingga program intervensinya tepat,” pungkasnya. (mil/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler