Connect with us

Hukum & Kriminal

Bunuh Bayi Baru Lahir, TKW Trenggalek Terancam Hukuman Mati

Diterbitkan

||

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek Nanang Budiharto. (mil)
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek Nanang Budiharto. (mil)

Trenggalek, Memontum – Terancam hukuman mati, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Keripik Tempe diduga terlibat kasus pembunuhan di Johor Malaysia. Diketahui, sampai saat ini kasus tersebut masih terus berjalan dan mendapat pendampingan hukum yang difasilitasi Konsulat Jenderal Malaysia di Johor Baru.

Dari informasi yang diterima, TKW tersebut adalah LS (24) pekerja migran wanita asal Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek.

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek, Nanang Budiharto membenarkan hal tersebut.

“Kabar tersebut memang benar adanya. Namun saat ini kasusnya masih dalam penanganan aparat penegak hukum setempat, ” ucap Nanang saat dikonfirmasi Memontum.com, Selasa (07/01/2020) sore.

Nanang mengatakan bahwa LS dikabarkan terjerat kasus hukum di Johor Baru Malaysia, lantaran membunuh bayinya sendiri yang baru saja dilahirkan.

Belum diketahui secara pasti motif yang dilakukan LS, sehingga dirinya tega membunuh darah dagingnya sendiri.

“Terkait motif yang dilakukan, kami juga masih belum tau secara pasti. Kami juga menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib disana, ” imbuhnya.

Mengetahui ada warganya yang terlibat kasus di Negeri Jiran Malaysia, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek sudah mengirimkan surat ke Konsulat Jenderal Malaysia.

Ini dilakukan agar LS mendapatkan pendampingan hukum dan mendapat keringanan hukuman atas kasus yang menjeratnya.

“Meski yang bersangkutan terancam hukuman mati, namun kuasa hukum yang disediakan oleh Konsulat Jenderal Malaysia akan terus berupaya membantunya agar hukuman ya diringan, ” tegas Nanang.

Perlu diketahui, LS bekerja di Malaysia selama 3 tahun sebagai caddy. Menurut keterangan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek LS merupakan pekerja legal dan berangkat melalui PJTKI. (mil/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

11 Tersangka dalam Kasus Penyalahgunaan Narkoba Berhasil Diungkap Polres Trenggalek

Diterbitkan

||

oleh

Memontum Trenggalek – Satuan Reserse Narkoba Polres Trenggalek berhasil mengungkap tujuh kasus penyalahgunaan Narkoba (narkotika dan obat-obatan), dalam kurun waktu sebulan. Keterangan itu, disampaikan Wakapolres Trenggalek, Kompol Heru Dwi Purnomo, dalam keterangan pers releasenya di Mapolres Trenggalek, Sabtu (18/09).

“Tujuh kasus yang berhasil diungkap, dua diantaranya adalah kasus narkotika jenis sabu dan lima lainnya adalah kasus Okerbaya (obat keras berbahaya),” kata Kompol Heru.

Wakapolres Trenggalek menambahkan, keberhasilan ini selain sebagai bukti nyata komitmen Polres Trenggalek, dalam mewujudkan Kabupaten Trenggalek zero Narkoba, juga merupakan buah keberhasilan dari Operasi Tumpas Narkoba Semeru yang digelar beberapa waktu yang lalu. “Lima kasus diantaranya ditangani Satresnarkoba Polres Trenggalek. Sedangkan dua lainnya oleh Polsek Watulimo dan Polsek Suruh,” imbuhnya.

Dari total kasus yang ada, lanjut Kompol Heru, Polres Trenggalek telah menetapkan 11 orang tersangka. Empat tersangka untuk kasus narkotika dan tujuh tersangka kasus Okerbaya dengan barang bukti keseluruhan 2,73 gram sabu dan 369 butir pil dobel L.

“Masing-masing tersangka itu antara lain, AH warga Pakel Kabupaten Tulungagung, DS warga Watulimo Trenggalek, TR asal Ngadirojo Kabupaten Wonogiri, BW warga Ngancar Kabupaten Kediri, MC warga Panggungrejo Pasuruan, AA warga Watulimo Trenggalek. KN, MGR dan DP, ketiganya adalah warga Kauman Tulungagung, YBS warga Gandusari Trenggalek dan IW warga Kecamatan Suruh Trenggalek,” jelas pria dengan pangkat satu Melati di pundak.

Akibat perbuatannya itu, petugas menjerat tersangka dengan pasal Pasal 114 ayat (1) subsider pasal 112 ayat (1) Juncto pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika. Sedangkan tersangka kasus okerbaya dikenakan pasal Pasal 197 jo pasal 106 ayat (1) subsider pasal 196 jo pasal 98 ayat (1) dan (2) UU RI no. 36 th 2009 ttg Kesehatan. Dalam kesempatan yang sama, Kompol Heru juga memberikan apresiasi kepada seluruh anggota Satresnarkoba dan Polsek jajaran yang telah bekerja keras dan menunjukkan dedikasi dan integritasnya sehingga mampu mengungkap berbagai kasus Narkoba tersebut.

“Kami ingatkan kembali, kami imbau agar masyarakat Trenggalek tidak coba-coba bermain dengan narkoba. Kami tidak akan pandang bulu. Tindak tegas sampai keakar-akarnya,” paparnya. (mil/sit)

Baca Juga:

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pelaku Pembunuhan Sesama Tukang Becak di Trenggalek Terancam 15 Tahun Penjara

Diterbitkan

||

ABANG BECAK: Polisi amankan pelaku pembunuhan beserta barang bukti.

Memontum Trenggalek – Setelah hampir dua bulan mendekam di ruang tahanan Polres Trenggalek, pelaku pembunuhan sesama tukang becak, Teguh (58) warga Desa Tempuran, Kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo, harus menerima ancaman hukuman selama 15 tahun penjara. Tersangka terancam dengan hukuman itu, setelah melakukan pembunuhan terhadap TKR (60) warga Desa Klampisan, Kelurahan Surondakan, Kecamatan Trenggalek.

Kapolres Trenggalek, AKBP Dwiyasi Wiyatputera, mengatakan jika pelaku berhasil diamankan petugas sesaat setelah kejadian pembunuhan. “Pasca kejadian, pelaku segera diamankan petugas saat berada di depan SD yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian,” ungkap Dwiyasi, Rabu (01/09) siang.

Baca Juga:

    Dijelaskan Kapolres, kejadian naas itu terjadi pada 1 Juli 2021, sekitar pukul 10.00 pagi. Awalnya, pelaku datang dengan membawa becak di depan ATM Bank Jatim, atau Utara Alun-Alun tepatnya di Jalan Sunan Kalijogo Kelurahan Ngantru Trenggalek dengan tujuan mangkal mencari penumpang. Akan tetapi, pelaku melihat saksi Sutrisno, sudah mangkal duluan.

    “Selanjutnya, korban TKR datang dengan membawa becaknya. Sesampainya di tempat mangkal, korban menabrakkan becaknya ke becak pelaku. Melihat hal itu, saksi Sutrisno mencoba menegur. Namun, justru terjadi cekcok antar pelaku dan korban,” jelasnya. 

    Setelah itu, tambahnya, korban menyuruh saksi Sutrisno dan pelaku pergi dan tidak memperbolehkan mangkal dilokasi tersebut. Bahkan, korban mengancam akan membunuhnya dengan gunting jika tidak mau pergi.

    “Merasa terancam, saksi pun pergi dan meninggalkan pelaku dan korban di lokasi,” terang Kapolres.

    Menurut pengakuan pelaku, saat itu korban kembali menabrak-nabrakkan becaknya ke becak pelaku. Pelaku yang saat itu duduk di jok becaknya, sampai sempat terjatuh ke aspal.

    Tidak berhenti di situ, korban mengacungkan gunting kearah pelaku sambil menyuruhnya pergi. Dan kalau tidak pergi, korban mengancam akan membunuhnya.

    “Karena tidak kuat menahan emosi, akhirnya pelaku mengambil sabit yang di letakkan di belakang tempat duduk becaknya. Tanpa berfikir panjang, pelaku mengayunkan sabit berkali kali ke arah leher korban hingga mengenai leher sebelah kiri korban. Dan mengakibatkan korban meninggal dunia di tempat kejadian,” jelasnya.

    Selain mengamankan pelaku, petugas juga turut mengamankan barang bukti diantaranya 2 unit becak milik korban dan pelaku, 1 gunting, 1 sabit, 1 pisau dan barang bukti lainnya.

    “Setelah menjalani penyelidikan dan penyidikan sejak bulan Juli lalu. Dalam waktu dekat kasus ini juga akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Trenggalek guna proses persidangan,” tegas Kapolres.

    Akibat perbuatannya ini, pelaku dijerat Pasal 338 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (mil/sit)

    Lanjutkan Membaca

    Hukum & Kriminal

    Edarkan Sabu, Pemuda Asal Tulungagung Diringkus BNNK Trenggalek

    Diterbitkan

    ||

    oleh

    Memontum Trenggalek – Di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, seorang pemuda asal Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, berhasil diringkus Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Trenggalek. Pelaku yakni HRP alias Cepuk ditangkap lantaran kedapatan membawa narkotika jenis sabu-sabu saat berada di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.

    Kapala BNNK Trenggalek, David Hendry Andar Hutapea membenarkan penangkapan terhadap seseorang yang kedapatan membawa barang haram tersebut. “Kejadian itu terjadi kemarin pada 13 Agustus 2021. Pelaku HRP alias Cepuk yang merupakan warga Desa Sukoharjo Kecamatan Bandung ini diamankan karena membawa sabu-sabu,” ucap David saat dikonfirmasi, Senin (16/08) tadi.

    baca juga

    Dijelaskan Kepala BNNK, penangkapan dilakukan saat pelaku menjadi kurir sabu dengan sistem ranjau. Pelaku mendapat perintah dari seseorang untuk mengambil sabu-sabu dari satu tempat dan memindahkannya ke tempat lain.

    “Sistem yang dipakai pelaku ini adalah sistem ranjau atau sistem putus. Jadi memindahkan barang yakni sabu-sabu dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebelum akhirnya sampai ditangan pemesan,” imbuhnya.
    Diketahui, pelaku juga merupakan kurir dari jaringan sabu-sabu di wilayah Trenggalek dan Tulungagung.
    David menyebut, pelaku tidak mengenal secara detail orang-orang yang menyuruhnya membawa sabu-sabu itu untuk dipindahkan. “Ia mengaku hanya disuruh untuk mengambil dan memindahkannya ke lain tempat. Dari hasil pendalaman, kita mengetahui dalangnya adalah salah satu narapidana yang ada di lapas Jatim,” terang David.

    Dari hasil penangkapan, selain mengamankan pelaku HRP. Petugas juga mengamankan batang bukti diantaranya sabu-sabu seberat 0.95 gram, sepeda motor Satria dengan Nomor Polisi (Nopol) AG 3262 YJ dan barang bukti lainnya.

    Masih terang David, transaksi dengan sistem putus atau ranjau ini dilakukan agar tidak mudah terlacak peredarannya.

    “Mengingat, pengendali transaksi sabu-sabu ini berada di luar lapas Trenggalek. Kami akan terus melakukan penyelidikan guna proses pengembangan lebih lanjut. Karena antara kurir dengan yang menyuruh ini tidak bertemu langsung, melainkan hanya berkomunikasi melalui jaringan seluler,” tuturnya.

    Menurut pengakuan pelaku HRP alias Cepuk, dari setiap transaksi ia hanya mendapatkan imbalan senilai Rp 200 ribu.

    “Dapat Rp 200ribu sekali transaksi, dan itu buat beli rokok saja,” ujar HRP.

    Ia mengaku jika uang tersebut diberikan dengan cara ditransfer. Bahkan, HRP pun mengaku hanya sekali bertemu dengan orang yang menyuruhnya itu.

    “Komunikasi cuma lewat hand phone, karena saya tidak kenal begitu dekat,” pungkas pria yang pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan ini.

    Akibat perbuatannya ini, pelaku akan dijerat pasal 114 ayat (1) sub pasal 112 (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara. (mil/ed2)

    Lanjutkan Membaca

    Terpopuler